MIFTAHUSSALAM: Akhlak
Headlines News :

Latest Post

Showing posts with label Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Akhlak. Show all posts

Motivasi & Nasihat Menghafal Al-Qur'an

Written By h on 05 November 2012 | Monday, November 05, 2012


                 Kami hadirkan sebuah video Motivasi untuk menghafal Al-Qur'an yang disampaikan oleh seorang ulama timur tengah yakni Syaikh Wahid Abdussalam Bali. Siapa pun anda, apa pun profesi anda bukan lah suatu hal yang sulit bagi anda untuk menghafal Al-Qur'an. Perlu bukti, simak dan dengarkan paparan singkat nasihat dan motivasi dari beliau terkait metode menghafal Al-Qur'an. Selamat menyaksikan...

Raudhah

Studi Kritis “HANDPHONE/TABLET/SMARTPHONE” bagi kaum santri (sebuah studi nyata berdasar fakta selama 8 tahun lebih)

Written By h on 25 October 2012 | Thursday, October 25, 2012


Bismillah.
Hanphone yang juga disebut telepon genggam dalam bahasa kita,  merupakan sebuah anugerah nikmat yang luar biasa dari Allah subhanahu wa ta’ala, yang dengannya kemudahan bermu’amalah sesama manusia dari berbagai penjuru bumi bisa terhubung dalam hitungan detik. Keadaan ini sangat jauh jika dibandingkan dengan kondisi sekian puluh tahun yang lalu atau sekian abad silam dimana surat masih menjadi wasilah utama untuk menyampaikan pesan maupun kabar kepada orang lain. Bahkan tidak sedikit diantara mereka harus pergi langsung dengan berjalan kaki untuk bisa menyampaikan suatu pesan kepada orang yang dituju.
Seiring  dengan perkembangan zaman yang terus menerus mengalami kemajuan di berbagai lininya, ditandai dengan dijadikannya kemajuan tersebut sebagai media unjuk kekuatan antar Negara, hingga kemajuan dunia teknologi pun tidak lepas dari sergapannya sebagai senjata untuk saling unjuk kekuatan, subhanallah.... kita melihat beberapa tahun yang lalu sebelum merebaknya hanphone, kita melihat maraknya penggunaan pager sebagai media transformasi pesan singkat… Tidak lama setelah itu,  muncullah handphone meskipun masih berlayar monochrome… Semakin hari semakin berkembanglah teknologi handphone monochrome menjadi handphone yang menawarkan layar berwarna… semakin hari semakin menantang para ilmuwan hingga bermunculanlah smartphone yang menawarkan berbagai keunggulan fitur, seperti kemudahan berselancar di dunia maya, seolah-olah dunia berada dalam genggaman tangan.
Berbagai lapisan masyarakat pun kini dapat menikmati berbagai jenis handphone maupun smartphone dengan mudahnya, mulai dari harga ecek-ecek puluhan ribu rupiah hingga kelas puluhan juta rupiah, itulah bukti nyata ketatnya persaingan teknologi di hari ini, siapa hebat dia berkuasa, siapa lemah dia jatuh. Maka tak aneh jika dulu…dulu… di masa kanak-kanak, kita hanya mengenal petak umpat, gobak sodor dan berbagai permainan tradisional lainnya keadaannya bertolak belakang dengan anak-anak di zaman ini. Anak-anak TK  pun tidak sedikit yang sibuk menggenggam handphone. Seringkali penulis mendapati anak-anak dibawah 6 tahun duduk-duduk bersama teman-teman kecil lainnya dengan menggenggam handphone sesekali terdengar lantunan music yang ngetrend saat ini. Lebih tinggi lagi tingkatan umurnya, banyak yang mulai mengenal facebook…. Fesbuk…ya begitu kita mengatakannya, sebuah media jejaring social, yang kita ikut terjebak di dalam jaring tersebut, dan tulisan ini berlepas dari berbagai opini positif negatifnya facebook karena penulis yakin lebih besar sisi negatifnya dengan melihat realita yang ada. Dan semua kembali kepada masing-masing pemilik akun facebook. Wallahu a’lam.

Kembali ke topik pembahasan, tentang urgenitas handphone bagi kaum santri. Dalam sebuah studi nyata berdasarkan fakta, kita bisa menarik  beberapa kesimpulan penting dari penyimpangan penggunaannya bagi kaum santri. Diantaranya : 
   

 Sebuah kedustaan menggunakan handphone ketika beralasan untuk memudahkan komunikasi dengan orang tua. Karena pada kenyataannya, penggunaan Handphone tersebut untuk menghubungi teman lawan jenis yang “Spesial” bagi si  pengguna. Dengan penawaran fitur canggih, menyibukkan santri dari belajar sebagai tugas utamanya berangkat ke pesantren, entah itu dengan sibuk mendengarkan music, video, televise, facebook, twitter, sms, bbm dan berbagai layanan yang disertakan di dalam hp. Penyimpangan ronahi dan psikis bagi sebagian santri yang menggunakannya untuk menyaksikan video-video binatang pezina. Na'udzubillahi min dzalik wa nas alullahal 'afwa wal 'aafiyah... Di lain kasus, kerap terjadi kehilangan Handphone sebagai imbas dari munculnya penyakit iri dan hasad. Inilah buah dari lemahnya iman seseorang yang tidak kuat ketika matanya merasa silau melihat sinar dunia yang begitu menyilaukan...

Inilah beberapa penyimpangan nyata yang penulis dapat sebutkan untuk mewakili berbagai jenis penyimpangan seputar penggunaan handphone bagi kaum santri. Tentu saja, dalam menguraikan hal ini, penulis memperhatikan maslahat dan mafsadat, kebaikan dan keburukan yang terkandung di dalam penggunaan handphone. Ini pulalah yang menjadi dasar landasan dalam memutuskan HARAMnya penggunaan handphone bagi santri Pondok Pesantren Pendidikan Islam Miftahussalam Banyumas. Sehingga sebagai upaya membendung arus pemikiran barat yang semakin hari semakin mengikis kehidupan religi kaum muslimin dari fithrahnya sebagai hamba-hamba yang dicipta untuk beribadah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya dan mengikuti petunjuk Rasul-Nya dan melaksanakan rangkaian-rangkaian ibadahnya, maka diputuskanlah tentang "Larangan bagi wali santri untuk memberikan HP kepada putra-putrinya selama menempuh pendidikan di Pesantren Miftahussalam."

Sebuah masalah yang timbul, sungguh tidak bijak jika mereka yang mengetauhinya untuk tutup mata ataupun tutup telinga disertai sembunyi tangan dengan cara tidak peduli serta tidak mau menyampaikan solusi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Sehingga sebagai bentuk ibadah kepada Allah, upaya nasehat menasehati antar pendidik dan peserta didik pun bisa ditempuh. Namun adakalanya ketegasan harus bersikap sebagai upaya perbaikan ummat, maka tidak aneh jika ada sedikit upaya tegas yang diberlakukan seperti penyitaan handphone, bahkan sampai tingkatan pemusnahan. Dan semua ini diberlakukan sebagai upaya meminimalisir berbagai kerusakan yang ditimbulkan. Bisa kita bayangkan jika anak-anak kita menjadi generasi pemalas, pecandu music, pezina yang sibuk untuk mengoleksi gambar-gambar binatang pezina bahkan sampai gambar yang bergerak. Sungguh ini sangat jauh dari harapan para orang tua dan para pendidik tentunya.

Sebagai sebuah solusi dari adanya peraturan khusus tentang HP yang telah berlaku di pondok pesantren kami, Miftahussalam Banyumas, adalah dengan pengadaan sms centre dimana santri yang yang ingin menghubungi orang tua diberi blangko sms, disitu dia mencantumkan no hp yg dituju dan isi pesan yang ingin disampaikan. Pelayanan telpon satu arah (hanya untuk menerima) pun diupayakan sebagai salah satu opsi jalan keluar dari pelarangan handphone di lingkungan pesantren. Juga beberapa ustadz dan ustadzah yang meminjamkan handphone mereka kepada santri untuk menghubungi orang tua di saat membutuhkan. Inilah diantara contoh-contoh jalan keluar dari pelarangan handphone yang menjadi masalah bagi beberapa santri dan wali santri. 

الأستاذ آدم لودي
معهد السلفية العالي
لتعليم اللغة العربية والعلوم الإسلامية


Para Santri Siap Belajar Kembali

Written By h on 01 January 2012 | Sunday, January 01, 2012

          Alhamdulillah, segala puji bagi Allah subhanahu wa ta'ala yang masih menjaga Miftahussalam sehingga pada hari ini masih eksis untuk membina para santri mempersiapkan kader-kader tangguh yang siap membina ummat. 
          Sore hari ini, tepatnya tanggal 1 Januari di awal tahun 2012 para santri mulai berdatangan kembali ke Miftahussalam untuk melanjutkan perjuangan mereka menuntut ilmu. Berbagai jenis kendaraan terpakir di halaman Pesantren. Meskipun sore ini Miftahussalam dan sekitarnya diguyur hujan deras, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para wali santri untuk mengantar putra-putrinya kembali ke Miftahussalam.
           Sebuah pemandangan yang indah bagi kami ketika shaf-shaf shalat berjama'ah  kembali penuh....Antrian makan awal malam ini mulai mengekor panjang....Lampu-lampu kamar kembali bersinar terang benderang dan suara riang gembira para santri yang saling berbagi cerita pengalaman liburan mereka ikut meramaikan Miftahussalam....Alhamdulillah, itu tandanya mereka sudah mulai menikmati kehidupannya di Miftahussalam setelah mereka menghabiskan waktunya untuk belajar di rumah sambil berbakti kepada orang tua mereka....Selamat Belajar..! [Akhfiya, Miftahussalam 01 Januari 2012]

TATA TERTIB SANTRI ASRAMA

Written By h on 05 December 2011 | Monday, December 05, 2011


           Bagi santri yang tinggal di asrama diharuskan mantaati disiplin dan tata tertib serta ketetapan -ketetapan yang berlaku di PPPI Miftahussalam Banyumas  yaitu Tata Tertib Dasar Santri         ( TTDS ) diantaranya adalah :

           
  • Taat dan patuh kepada Pimpinan Pondok Pesantren dan guru-guru ( Ustadz dan Ustadzah ).
  • Mengikuti aktifitas / kegiatan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren.
  • Melaksanakan Sholat lima waktu dengan berjamaah ( TTDS BAB II Pasal 2 ayat 1).
  • Tidak diperkanankan meninggalkan Pondok Pesantren ( Asrama ) kecuali telah mendapatkan izin dari bidang asrama   atau yang ditunjuk untuk itu dengan dibuktikan adanya surat izin.
  • Tidak diperkenankan Merokok, minum-minuman keras, berkelahi, pacaran atau perbuatan yang merusak masa depan.
  • Tidak diperkenankan membawa atau menyimpan senjata tajam atau sejenisnya.
  • Tidak diperkenankan membawa , memiliki atau menyimpan HP .(Download Surat Penegasan LARANGAN membawa HP bagi santri DISINI )
  • Setiap santri yang keluar dari komplek asrama harus berpakaian yang sopan.
  • Bagi santri putra harus memakai pakaian muslim dan berkopiah / berpeci.
  • Apabila santri membawa, memiliki, menyimpan  HP kemudian disita, maka HP tersebut tidak akan dikembalikan.
  • Menerima dengan ikhlas atas saran, nasehat, teguran dan perbaikan diri dari Pimpinan Pesantren, Kepala Madrasah serta Ustadz – ustadzah.
  • Disiplin dan aturan yang tidak tertulis dalam tata tertib ini sudah tercantum didalam Buku  Tata Tertib Dasar Santri .
  •  Apabila santri menghendaki untuk laju maka orang tua hendaknya meminta ijin terlebih dahulu kepada Pimpinan Pondok,  surat izin laju akan diberikan apabila telah mendapatkan izin dari Pimpinan Pondok.

Banyumas, 17 Juni 2010
Kepala Bidang
Pengasuhan Santri 



USTADZ KIDAM AS

Agar Anak Tidak Menjadi Teroris

Written By h on 27 September 2011 | Tuesday, September 27, 2011


Betapa hancur hati kedua orangtua, tatkala dikabarkan kepada mereka ternyata anaknya yang selama ini dikenal sebagai anak baik-baik dan pendiam diciduk aparat kepolisian karena terlibat jaringan terorisme. Orangtua yang lain pun shock begitu mendengar anaknya tewas dalam aksi peledakan.

Sementara itu, teman-temannya serasa tidak percaya mendengar berita bahwa anak yang selama ini mereka kenal sebagai anak baik, supel, dan ramah, ternyata terlibat aksi terorisme!!

Demikianlah, betapa menyedihkan. Nyata jaringan terorisme telah berhasil menyeret anak-anak baik dari putra-putra kaum muslimin dalam aksi biadab yang bertentangan dengan agama dan akal sehat tersebut.

Tentunya, kita bertanya-tanya bagaimana anak-anak muslimin bisa terseret jaringan terorisme? Melalui pintu apa terorisme bisa masuk ke alam pikiran mereka sehingga mereka tertarik dan mau mengikutinya?

Pembaca, kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…

Akar munculnya terorisme adalah dari paham sempalan Khawarij. Suatu paham ekstrem dalam beragama, yang membuahkan sikap merasa benar sendiri, kemudian serampangan dalam memahami dan mengamalkan dalil-dalil syariat, lepas dari bimbingan para ulama, yang berujung pada pengkafiran semua pihak yang bertentangan dengan pendapatnya, termasuk mengkafirkan pemerintah kaum muslimin.

Gerakan terorisme yang pertama kali muncul dalam sejarah Islam adalah di akhir masa Khilafah ’Utsman bin ’Affan radhiyallahu ‘anhu, yang diprakarsai oleh seorang Yahudi, Abdullah bin Saba’, dengan menampilkan slogan keadilan dan benci kezaliman. Sebagai korban pertama kali adalah sang khalifah Utsman bin ’Affan radhiyallahu ‘anhu sendiri! Kemudian semakin gencar pada masa kekhalifahan ’Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yang beliau sendiri pun menjadi korban aksi terorisme tersebut. Merekalah kelompok sempalan Khawarij, yang tumbuh menggerogoti dan menghancurkan Islam. Di atas paham mengkafirkan orang-orang yang bertentangan dengan mereka, dan berlanjut menghalalkan darah mereka, terutama pemerintah muslimin, yang telah mereka vonis sebagai pemerintah kafir. Itu semua mereka lakukan atas nama agama.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari telah memberitakan kemunculan kelompok sesat ini, lengkap dengan ciri-ciri dan sifat-sifatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ، يَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang muda-muda umurnya, pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan sebaik-baik manusia. Mereka membaca Al-Qur’an, tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah menembus binatang buruannya.” (HR. Al-Bukhari no. 3611, 5057, 6930; Muslim no. 1066)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati mereka sebagai:

هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيْقَةِ

Mereka adalah sejahat-jahat makhluk.” (HR. Muslim no. 1067)

Maka apabila pada anak-anak kaum muslimin ada kecenderungan mengkritisi pemerintah muslimin, selalu menentang kebijakan pemerintah muslimin, bahkan berani memvonis kafir terhadap pemerintah muslimin tanpa bimbingan para ulama, maka hati-hati dan waspadalah! Ini merupakan bibit paham takfir (mudah mengkafirkan kaum muslimin), yang merupakan benih awal untuk seseorang berani menghalalkan darah pemerintah muslimin dan siapapun yang mereka anggap membela dan mendukung pemerintah. Ujung-ujungnya, mengantarkan mereka untuk berani melakukan aksi kekerasan yang dilabeli sebelumnya sebagai jihad. Inilah awal mula seseorang terseret dalam aksi terorisme.

Kesalahan fatal berikutnya, yang mengantarkan anak-anak kaum muslimin untuk tertarik dengan gerakan terorisme adalah semangat berjihad yang besar dan kebencian yang besar terhadap orang-orang kafir, namun tidak disertai dengan pemahaman yang benar tentang apa itu jihad, bagaimana aturan Islam tentang masalah jihad, serta orang kafir manakah yang boleh untuk diperangi?

Tidak diragukan lagi, bahwa jihad merupakan puncak Islam yang tertinggi. Orang-orang kafir adalah musuh-musuh Islam yang harus dibenci dan diperangi oleh kaum muslimin. Namun, dalam agama Islam ada aturan dan tuntunan yang harus dipahami dengan benar dan tidak boleh dilanggar. Hal inilah yang tidak dipahami dengan baik oleh mereka yang terlibat dalam aksi terorisme tersebut. Karena memang di antara sifat dan ciri-ciri mereka adalah pendek akalnya dan cupet (Bhs. Jawa: dangkal) cara pandangnya. Tak heran bila aksi terorisme (baca: kebodohan) yang mereka lakukan tersebut merusak citra Islam dan mencemarkan nama baik kaum muslimin, terkhusus lagi nama baik orang-orang yang istiqamah di atas agamanya.

Sebagai contoh, bahwa dalam syariat Islam tidak semua orang kafir boleh dibunuh. Kafir dzimmi, kafir mu’ahad, dan kafir musta’min, dalam Islam jiwanya terlindungi, tidak boleh dibunuh. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

Barangsiapa membunuh seorang kafir mu’ahad, maka dia tidak akan mencium aroma wangi jannah (surga). (Padahal) sesungguhnya aroma wangi jannah itu didapati (tercium) sejauh perjalanan 40 tahun.” (HR. Al-Bukhari no. 3166, 6914, An-Nasa’i no. 4764, Ibnu Majah no. 2736, dan Ahmad 5/36)

Adapun orang kafir yang boleh diperangi dan dibunuh adalah kafir harbi, yaitu orang-orang kafir yang memerangi muslimin, tidak ada antara muslimin dengan mereka perjanjian, dzimmah, tidak pula jaminan keamanan.

Kita perlu waspada pula, apabila seorang mulai kagum dan mengidolakan tokoh-tokoh teroris semacam Usamah bin Laden, Aiman Azh-Zhawahiri, seraya menganggapnya sebagai tokoh ulama besar yang diikuti ucapan dan fatwa-fatwanya. Sebagai contoh, aktor peledakan bom Bali yang bernama Imam Samudra. Dia menganggap tokoh-tokoh teroris panutannya di atas sebagai ulama dan menyejajarkannya dengan para ulama besar Ahlus Sunnah. Padahal, sifat dasar para khawarij, pelaku aksi teror tersebut ,adalah sama sekali lepas dari bimbingan para ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam memahami dan mengaplikasikan dalil-dalil syariat.

Lebih rumit lagi, orang-orang yang terlibat dalam jaringan terorisme, ternyata bukanlah orang-orang yang jauh dari agama. Sebaliknya mereka adalah orang yang zhahirnya sangat dekat kepada agama, menampakkan syi’ar-syi’ar Islam dalam penampilan dan pakaian mereka, serta sangat rajin beribadah. Bahkan aksi teror yang mereka lakukan tersebut diyakini dalam rangka memperjuangkan Islam dan merupakan bagian dari ajaran Islam!!

Sikap komitmen terhadap ajaran agama, berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan sikap yang harus kita jalankan. Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menjauh atau apriori terhadap Islam dan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sikap berpegang teguh terhadap agama tersebut harus berdasarkan manhaj (metode pemahaman) yang benar, dengan bimbingan para ulama sejati dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Alhamdulillah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggalkan umatnya di atas petunjuk yang sangat jelas. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

وَايْمُ اللهِ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ

Demi Allah, aku tinggalkan kalian di atas (agama) yang terang-benderang. Kondisi malam dan siangnya sama.” (HR. Ibnu Majah no. 5. Lihat Ash-Shahihah no. 688)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menggariskan manhaj yang benar dalam memahami dan mengaplikasikan agama ini, yaitu dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتَلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku), dia akan mendapati perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnah (bimbingan)ku dan sunnah para Khulafa’ Rasyidin sepeninggalku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676. Lihat Ash-Shahihah no. 937)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda tentang jalan yang benar dalam memahami Islam:

مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

”Jalan/prinsip yang aku (Rasulullah) berada di atasnya hari ini dan juga para sahabatku.” (HR. At-Tirmidzi no. 2641, Ath-Thabarani 1/256. Lihat Ash-Shahihah no. 203, 204)

Jika kita tidak memerhatikan prinsip di atas, akan menyebabkan salah dalam memahami dan mengaplikasikan dalil-dalil agama yang membuahkan sikap ekstrem dan menyimpang dalam beragama.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencela sikap ekstrem tersebut dalam sabda beliau:

Binasalah orang-orang yang ekstrem, binasalah orang-orang yang ekstrem, binasalah orang-orang yang ekstrem.” (HR. Muslim no. 2670). Wallahu a’lam.

Dikutip dari www.Asysyariah.com diambil dari www.assalafy.org Penulis : Redaksi Judul: Agar Anak Tidak Menjadi Teroris

Tambahan dari Admin : Bagi antum yang ingin referensi lengkap seputar PENYIMPANGAN TERORISME silahkan kunjungi website ustadz kami yang mulia al-Ustadz Dzulqornain hafidzohulloh di : http://jihadbukankenistaan.com/tentang-penulis

Generasi Muda, Hendak Kemana?

Written By h on 14 June 2011 | Tuesday, June 14, 2011

http://abangdani.files.wordpress.com/2011/05/jalan-bercabang.jpg
Masa muda adalah masa yang penuh dengan tanda tanya. Karena perjalanan masa muda merupakan kesempatan emas bagi siapa saja yang ingin merusak atau membangun peradaban umat manusia. 

Kita lihat, orang-orang yang ingin menjauhkan kaum muda dari agamanya berupaya sekuat tenaga untuk menyuguhkan berbagai sajian ‘menarik’ untuk menjebak dan menjerumuskan mereka ke lembah kehancuran akhlak dan masa depan mereka. Semoga Allah tidak memperbanyak golongan perusak semacam mereka…

Di sisi lain, kita juga melihat ada sebagian kalangan yang berupaya -dengan segala keterbatasan yang ada- untuk membendung arus pemikiran dan gaya hidup menyimpang yang tengah disebarluaskan di tengah generasi muda umat ini. Semoga Allah meneguhkan mereka dan melipatgandakan pahala atas kesabaran dan keikhlasan mereka…

Saudaraku, semoga Allah menyatukan kita di atas jalan yang lurus... Kemerosotan akhlak generasi muda adalah persoalan yang harus diatasi. Kita tidak hanya berbicara mengenai akhlak mereka kepada sesama, bahkan akhlak mereka kepada Allah ta’ala, Dzat yang telah menciptakan dan mencurahkan berbagai macam nikmat kepada mereka.

Belum lama kita dengar slogan-slogan kekafiran yang muncul di antara pemuda negeri ini. Seperti contohnya ungkapan, “Area bebas tuhan”, “Tidak ada hukum tuhan”, “Semua agama benar” dan lontaran-lontaran aneh bin sesat lainnya yang sangat menyakitkan untuk diceritakan. Apa ini kalau bukan buah makar setan dan bala tentaranya dari kalangan manusia yang berusaha untuk merongrong akidah dan keimanan kaum muslimin terutama generasi mudanya?!

Demikian juga, kalau kita melihat dari sisi yang lain, munculnya arus pemikiran ekstrim di tengah para pemuda yang disebarluaskan oleh sebagian ‘kaum tua’. Mereka yang berbicara seolah-olah semua orang selain kelompoknya adalah kafir seluruhnya. Mereka yang berbicara seolah-olah pemerintah umat ini tidak ada kebaikannya sama sekali. Mereka yang berbicara seolah-olah para pemimpin kaum muslimin semuanya adalah para pengkhianat rakyatnya. Mereka yang berbicara seolah-olah kekuasaan adalah segala-galanya. Mereka yang senantiasa membela aksi-aksi pengeboman yang menelan korban tak bersalah dengan dalih jihad dan perlawanan [?!]. Apakah ini kalau bukan buah makar setan dan bala tentaranya yang menggiring para pemuda ke jurang kebinasaan; melestarikan pemikiran ala khawarij yang membiarkan pemuja berhala bebas berkeliaran dan membantai kaum muslimin dengan alasan menegakkan keadilan?!

Saudaraku… pembinaan generasi muda di atas manhaj rabbani adalah perkara yang menjadi jawaban atas problematika yang kini tengah menghimpit mereka. Orang-orang yang bermanhaj rabbani adalah sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama kita, “Yaitu orang-orang yang membimbing manusia dengan ilmu-ilmu yang mendasar sebelum ilmu-ilmu yang besar.” (lihat Shahih al-Bukhari).

Banyak kita saksikan, kalangan yang menawarkan solusi atas problematika generasi muda. Akan tetapi sedikit yang kita temukan bersesuaian dengan manhaj yang haq ini; manhaj Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam mendidik generasi muda secara khusus dan kaum muslimin secara umum. Padahal, Allah ta’ala telah memberikan jaminan kepada siapa saja yang konsisten mengikuti manhaj mereka dengan keberhasilan.

Bukankah Allah ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, Allah pun mempersiapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)

Inilah ayat yang menjadi syi’ar pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadi ganjalan hati bagi orang-orang munafik dan musuh-musuh Islam. Ayat yang mengajak umat ini untuk merasa cukup dengan manhaj/cara beragama yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabat. Ajaran yang telah sempurna dan dapat diterapkan pada kondisi serta masa yang berbeda-beda. Ajaran yang menjamin pengikutnya sehingga tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)
Maka musuh-musuh Islam pun berusaha keras untuk menjauhkan generasi muda dari manhaj yang haq ini. Mereka tawarkan berbagai macam wacana dan pemikiran demi mengacaukan pola berpikir dan gaya hidup anak muda. Bukan ilmu-ilmu mendasar yang mereka berikan, akan tetapi ilmu-ilmu yang lebih layak disebut sebagai racun pemikiran dan bisikan setan. Terkadang ayat dan hadits pun tidak segan mereka plintir maknanya demi mencocokkan dengan pemikiran mereka. Bahkan, yang lebih parah lagi ada yang terang-terangan lebih mendahulukan akalnya daripada ayat-ayat al-Qur’an..! Subhanallah… Mereka menuduh bahwa kepatuhan kepada dalil adalah bentuk kemalasan berpikir. Dengan kata lain, mereka ingin mengatakan bahwa tunduk kepada rasul secara total adalah sebuah ketololan…[?!] Sungguh ini adalah kedustaan yang sangat besar

Tidak berhenti di situ saja. Bahkan, dibuatlah imej (kesan) bahwa orang-orang yang tekun menimba ilmu agama itu –apalagi sudah mengangkat celana di atas mata kaki dan memelihara jenggot bagi kaum lelaki dan mengenakan cadar bagi kaum perempuan– pada akhirnya akan menjadi orang-orang yang sesat dan membahayakan umat.

Kita tidak pungkiri bahwa banyaknya aliran dan firqah di tubuh kaum muslimin ini menyebabkan banyak anak muda yang salah jalan dalam beragama. Namun, merupakan sebuah sikap yang sangat keliru jika kemudian hal itu dijadikan alasan untuk berpaling dan tidak mau sama sekali mempelajari ilmu agama. Jelas, ini adalah sikap kekanak-kanakan… Dan inilah -wallahu a’lam- imej yang sekarang ini sedang gencar-gencarnya diciptakan melalui media massa dan pemberitaan… Mereka tidak ingin generasi muda dekat dengan agamanya. Yang mereka inginkan adalah sosok generasi muda yang menjadi robot-robot penghasil uang dan konsumen fanatik demi melariskan produk-produk pemikiran dan kebudayaan barat yang jauh dari agama dan kesopanan…

Pada kondisi semacam ini, siapakah yang peduli terhadap nasib generasi muda umat ini? Akankah kita biarkan mereka buta tentang aqidah dan ajaran agamanya? Akankah kita biarkan mereka terseret oleh pemikiran ala iblis dan gaya hidup ala binatang? Dimanakah kecemburuan kita sebagai seorang muslim terhadap saudaranya? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dicintainya bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari). Syaikh Yahya al-Hajuri -semoga Allah meluruskan langkah-langkahnya- berkata, “Maka menyampaikan kebaikan kepada umat manusia adalah termasuk bagian keimanan. Janganlah ada yang mengira bahwa dakwah ilallah ataupun ta’lim yang dilakukan oleh seseorang itu akan sia-sia belaka selama dia bersikap jujur kepada Allah -ikhlas dalam amalannya, pent-. Meskipun tidak ada seorang pun yang menerima dakwahmu maka kamu  tetap mendapatkan pahala…” (Syarh al-Arba’in, hal. 105). Inilah saatnya, kita bahu-membahu untuk menyelamatkan generasi muda dari cengkeraman bahaya..

Infotainmen, Barang Haram yang Diminati

Written By h on 03 June 2011 | Friday, June 03, 2011

TANPA HAK CIPTA. Anda diperbolehkan menyebarluaskan, mengutip/menyalin sebagian atau seluruh isi dari artikel ini dengan syarat Anda tidak melakukan perubahan apapun, tidak untuk tujuan komersil dan harus mencantumkan sumbernya.

Setelah sebelumnya MUI mengeluarkan fatwa haram untuk SMS kuis, NU1 mengeluarkan fatwa haram tentang infotainmen. Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU memutuskan untuk mengharamkan segmen infotainmen. Pro-kontra pun menyeruak.
Dewan Pers merespon positif putusan tersebut. “Penyiaran infotainmen yang menayangkan sajian utama tentang perselingkuhan tanpa dasar, gosip, gunjingan, dan promosi kumpul kebo itu jelas bertentangan dengan UU Pers dan kode etik wartawan,” kata anggota Dewan Pers, Leo Batubara.
Senada dengan Leo Batubara, Ade Armando, ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta media lebih menegakkan etika jurnalistik dalam pemberitaannya. Sayangnya, dia menilai, pihak infotainer (penyelenggara acara infotainmen) justru lebih berkiblat kepada dunia barat. Di negara-negara liberal tersebut banyak sumber dapat dijadikan bahan gosip. “Yang disampaikan ke publik itu terdapat efek, tidak saja kepada penonton, tetapi juga terhadap sumber berita itu sendiri,” katanya.
Sementara sebagian pihak menyatakan ketidaksetujuannya terhadap putusan tersebut. Fatwa ulama-ulama NU yang mengharamkan tayangan infotainmen dinilai seorang rektor sebuah lembaga pendidikan tinggi agama di Jakarta justru tidak efektif. “Yang terpenting dalam hal ini bukanlah fatwa, tapi edukasi kepada publik,” kata pria yang dekat dengan JIL ini.
Penilaian rektor tersebut jelas telah mengesampingkan sebuah konsep pendidikan terpadu. Dalam konsep Islam larangan dan hukuman termasuk bagian dari proses pendidikan, tidak bisa dipisahkan dari himbauan dan perintah. Bagaimana bisa mencetak generasi yang berkualitas, jika anak dididik akhlak 10 jam sehari sementara dimentahkan kembali oleh acara sampah dalam waktu 1 jam. Bukankah hujan sehari mampu menghapus panas setahun? Atau memang ada konspirasi barat dan putra didiknya untuk menghancurkan generasi muda Indonesia?!
Kontroversi Tak Mesti Ditoleransi
Penilaian terhadap tayangan infotainmen mungkin menimbulkan kontroversi. Namun perlu diingat menyikapi perbedaan pendapat tersebut bukan seperti perbedaan (ikhtilaf tanawu’) yang terjadi di kalangan ulama. Ulama yang menyandarkan pada pemahaman para sahabat tidaklah didasarkan hanya pada kepentingan pribadi dan hawa nafsu. Tidak seperti ungkapan sebagian orang yang tidak terdidik agamanya. “Nyatanya, kalau dilihat dari polling acara yang banyak ditonton itu infotainmen, jadi jangan membatasi kesenangan rakyat,” ungkap sebagian orang.
Bagi orang yang tidak mengerti agama, dalam menentukan boleh-tidaknya suatu hal hanya berdasar pada nilai kepentingan. Apa yang disenangi rakyat berarti boleh. Kalau masyarakat hobinya melakukan perzinaan?! Wal’iyyadzubillah. Motivasi kepentingan memang sering menghilangkan akal sehat.
Termasuk dalam menilai tayangan infotainmen. Infotainmen tak lebih sekadar kemasan indah untuk membungkus hobi gosip. Tidak salah kiranya jika nama yang lebih pas adalahghibahtainmen. Faktanya hampir 100% muatan acara infotainmen tak lebih dari pengungkapan isu miring. Bahkan sudah masuk dalam kategori buhtan dan fitnah, karena sebagian bermuatan berita isapan jempol.
Pelajaran apa yang bisa didapat dari berita sampah semacam itu? Pendidikan macam apa yang dihasilkan dari ungkapan-ungkapan kosong penuh fitnah semacam itu?! Semuanya tak lebih dari sekadar pembodohan terhadap masyarakat. Meracuni fitrah anak-anak yang masih hijau. Merusak mental generasi yang telah dewasa. Tak ada kelebihan, kecuali keuntungan finansial bagi penyelenggaranya semata. Sudah semestinya Dewan Pers menyetop tayangan tersebut!
Dulu, Sekarang, Besok pun Tetap Haram!
Bagi seorang Muslim sudah jelas tayangan infotainmen termasuk barang haram. Dalam khazanah Muslim ghibah adalah terlarang sejak zaman dulu, hukum ini terus berlaku hingga kini, bahkan sampai dunia berakhir. Fatwa NU sekadar mewakili kegerahan kita yang tidak setuju infotainmen. Toh tayangan infotainmen tersebut bukan dalam koridor darurat yang “membolehkan” ghibah. Bukan dalam kerangka hukum, pengenalan atau mencari fatwa nasihat, misalnya.
Sang Pencipta alam semesta telah memberikan peringatan keras kepada manusia agar menjauhi ghibah, firman-Nya;
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Tentulah kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hujurat : 12)
Biar tidak saling berdebat tentang definisi ghibah atau gunjingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, dengan sabdanya.
“Berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam; ‘Tahukah kalian apa ghibah itu?’ Berkata para sahabat; ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Berkata beliau; ‘Kamu menceritakan tentang saudaramu sesuatu yang tidak disenanginya.’ Ada yang berkata, ‘Bagaimana kalau sesuatu itu benar adanya?’ Jawab Rasulullah; ‘Jika kenyataan, berarti kamu telah melakukan ghibah, jika tidak nyata berarti kamu melakukan buhtan (kabar bohong).’”2
Dengan demikian sebenarnya sudah tidak tersedia ruang yang aman untuk melakukan ghibah, walaupun di kotak bernama televisi. Justru lewat televisi sepotong ghibah menjadi semakin luas dampaknya. Bukan sekadar dosa gunjingan tetapi plus dosa mengajari orang lain berbuat kejelekan. Kalau begitu pantaskah kita kaum Muslimin tetap menyaksikannya?
Catatan Kaki:

1. ^ Organisasi yang mengumpulkan berbagai aliran tarekat sufi, salah satu cirinya (adalah mereka) berlebihan dalam menghormati kyainya. (Namun) dalam fatwa tentang hal ini (mereka) bersesuaian dengan syariat Islam (walhamdulillah).
2. ^ Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa as-Shilah wa al- Adab (2589).
 
Support : Miftahussalam Islamic Boarding School | Banyumas | Jawa Tengah
Copyright © 2011. MIFTAHUSSALAM - All Rights Reserved
Designed by ADAM LODIE 2012
From CREATIDIE Galleries to Make Your Design